Istri Sebagai Manager, Suami Sebagai Direktur: Cara Ringan Mengelola Rumah Tangga Tanpa Drama

Ada satu fase dalam pernikahan yang sering terjadi diam-diam tanpa seremoni, tanpa rapat resmi, apalagi tanda tangan kontrak. Tiba-tiba, rumah tangga berjalan seperti sebuah perusahaan kecil. Ada target bulanan, ada operasional harian, ada “budgeting”, ada risiko, ada jadwal, bahkan ada “komplain pelanggan” (biasanya dari anak, sodara atau pasangan sendiri).

Dan di situlah muncul fenomena unik dimana istri berlaku selayaknya seorang manager dan suami sebagai seorang direktur. Kedengarannya lucu, tapi justru kalau dipahami dengan cara yang tepat, ini bukan kritik atau sindiran, melainkan metafora kolaborasi yang bisa bikin pernikahan lebih rapi, lebih tenang, dan lebih masuk akal. Rumah tangga itu bukan sekadar romantis, tapi juga sistem. Romantis itu penting, tapi kenyataannya yang membuat rumah tangga bertahan bukan cuma kata-kata manis, melainkan sesuatu yang lebih “membumi” yaitu sistem atau konsep.

Karena setiap hari, rumah tangga punya pekerjaan nyata, tagihan yang harus dibayar, kebutuhan dapur yang harus terisi, jadwal anak yang harus diatur, urusan keluarga besar yang perlu dikelola, agenda mendadak yang muncul tanpa aba-aba, emosi yang naik turun karena lelah dan tekanan hidup serta berbagai hal lainnya. Kalau semua ini dilakukan tanpa koordinasi, rumah tangga tetap bisa berjalan, tapi bisa dipastikan tersendat dan jauh dari kata kompak atau seirama. Karena banyak yang akhirnya capek, lalu mulai saling menyalahkan, dan tak sedikit yang berujung kepada perceraian. Maka ketika itu terjadi disinilah penerapan suatu konsep atau sistem mulai terasa penting.


Konsep Istri sebagai Manager dan Suami sebagai Direktur adalah metafora yang cukup terbilang unik dan banyak diterapkan dalam manajemen rumah tangga untuk menggambarkan pembagian peran, tanggung jawab, dan kerjasama antara pasangan. Konsep ini menekankan pada profesionalisme, efisiensi, dan teamwork untuk menciptakan keluarga yang harmonis dan terstruktur.

Suami sebagai Direktur (CEO/Pemimpin Strategis) atau qowwam (pemimpin/pelindung), secara garis besar menekankan bahwa suami bertanggung jawab atas arah strategis keluarga, bahkan bukan hanya dalam perkara dunia saja, akan tetapi dalam perkara akhirat dari sudut pandang Agama Islam pun, bahkan seorang suami bertanggungjawab atas dosa yang diperbuat oleh istrinya. Oleh karena itu tanggung jawab menjadi hal mutlak yang harus di pikul oleh seorang suami.

Dalam konsep Suami sebagai Direktur, dituntut mampu menyiapkan visi dan misi untuk menentukan arah tujuan rumah tangga baik jangka pendek maupun jangka panjang, membuat keputusan besar/strategis setelah berdiskusi dengan istri, menjadi pencari nafkah utama guna memastikan kebutuhan primer (pangan, sandang, papan) terpenuhi dan bertanggung jawab penuh atas keselamatan dan kehormatan keluarga. Namun dalam konsep ini juga bukan berarti suami tidak terlibat sama sekali dalam hal operasional rutin yang terjadi di dalam rumah, seperti contohnya ketika ada masalah kerusakan teknis dengan kompor penyedia kebutuhan makanan atau kompor kehabisan gas, meskipun bisa dikatakan urusan dapur adalah urusan istri, akan tetapi hal tersebut bisa di bantu oleh suami untuk memperbaiki kompornya atau pergi membeli gas ke warung, terutama untuk hal-hal yang membutuhkan tenaga dan kemampuan teknis seorang laik-laki. Terkecuali jika keadaan finansialnya sudah cukup mendukung untuk mendelegasikannya kepada tukang atau orang suruhan.

Sementara gambaran Istri sebagai Manajer, istri mengatur operasional sehari-hari agar visi yang ditetapkan suami/direktur tercapai. Dari mulai urusan finansial sebagai pengelola uang dari suami, mengatur anggaran, dan merencanakan belanja kebutuhan keluarga, hingga ke ranah operasional rutin pengelolaan rumah tangga, mengatur kebutuhan anak, dan memastikan lingkungan rumah nyaman. Bisa dikatakan istri adalah pengelola implementasi strategis untuk mengeksekusi rencana yang telah disepakati bersama suami, serta memberikan masukan strategis kepada suami dalam pengambilan keputusan. 

Manager itu bukan orang yang paling tinggi jabatannya, tapi dialah yang paling tahu detail dan paling paham untuk memastikan semuanya berjalan. Dalam rumah tangga, peran ini sering dipegang istri, karena istri biasanya tahu stok beras tinggal berapa, istri hafal jadwal imunisasi atau rapat sekolah, istri ingat kapan gas habis biasanya terjadi, dan istri juga mengerti ritme berbagai hal lainnya di dalam rumah, kapan harus tegas, kapan harus lembut. Bukan karena istri “lebih cerewet” sehingga cocok menjadi manager, tapi karena banyak hal dalam rumah tangga yang memang butuh monitoring rutin dan eksekusi. Jadi bisa dikatakan ketika kemampuan finansial dalam suatu rumah tangga itu pun sudah tergolong mampu mempekerjakan orang untuk membantu memasak, mencuci, dll, namun tetap kendali atas pengelolaan baik dari sisi ritme dan standar kualitas tetap berada di tangan Istri sebagai Manager.

Konsep ini bisa membuat tata keloa rumah tangga jadi lebih rapi, karena ada pembagian yang jelas guna mengurangi konflik akibat ketidakjelasan peran. Secara perlahan kerjasama (teamwork) diantara suami dan istri akan terbentuk sehingga bisa saling melengkapi, bukan saling menjatuhkan. Dari sisi efisiensi manajemen waktu dan keuangan menjadi lebih terstruktur. Dan konsep ini juga menempatkan istri dalam posisi yang mulia dan berkuasa dalam pengelolaan operasional, sementara suami memegang tanggung jawab tertinggi sebagai pemimpin, menciptakan keseimbangan yang profesional dalam rumah tangga. 

Istri sebagai manager dan suami sebagai direktur adalah metafora yang bisa membantu kita melihat pernikahan secara lebih realistis. Romantis itu tetap ada, tapi di balik romantis, ada proses manajemen yang mampu mengatur ritme, membangun sistem, menjaga komunikasi dan membagi peran secara elegan. Bukan untuk membuat rumah jadi kaku, justru untuk membuat rumah jadi lebih tenang.

Karena cinta saja tidak selalu cukup, tapi cinta yang disertai kerja sama… itu yang membuat rumah tangga bertahan lama dan tetap terasa hangat.


Share on Google Plus

About A.S. Antapradja

An ordinary husband and father who was born at eastern small town of West Java. Working for the State Owned Company in Indonesia, loving outdoors activity and adventure addict. Part time wanderer with amateur experience, but full time dreamer with no limit to break the horizon as the destination...

0 Comments :

Post a Comment