Trah Antapradja (Cikal Bakal)

Rd. Antapradja

Silsilah keluarga Antapradja yang berakar dari Trusmi, Cirebon hingga berkembang ke wilayah Tanjungkerta, Sumedang merupakan bagian dari mozaik sejarah panjang masyarakat Sunda Pesisir dan Priangan. Garis keturunan ini tidak hanya mencerminkan hubungan keluarga semata, tetapi juga merepresentasikan dinamika sosial, politik, dan penyebaran budaya Islam di Jawa Barat sejak abad ke-15.

Secara genealogis, asal-usul Trah Antapradja kerap ditelusuri hingga figur-figur penting dalam sejarah awal Cirebon, seperti Raden Walangsungsang, tokoh yang dikenal sebagai salah satu perintis berdirinya kekuasaan Islam di wilayah Cirebon dan memiliki hubungan dengan Kerajaan Sunda Pajajaran. Dari garis ini kemudian lahir keturunan seperti Pangeran Cirebon Girang, Pangeran Trusmi, dll, yang menunjukkan adanya kesinambungan antara elite Sunda lama dengan struktur sosial baru berbasis Islam.

Perkembangan silsilah ini tidak dapat dilepaskan dari konteks berdirinya Kesultanan Cirebon pada abad ke-15, yang menjadi salah satu pusat awal Islamisasi di Jawa Barat. Kesultanan ini tumbuh sebagai kekuatan politik dan pusat perdagangan penting, sekaligus menjadi pusat penyebaran agama dan budaya baru di wilayah pesisir utara Jawa. Dalam konteks inilah, wilayah Trusmi yang dikenal sebagai pusat aktivitas keagamaan dan budaya, termasuk tradisi batik yang diajarkan oleh Ki Gede Trusmi menjadi lingkungan sosial yang subur bagi tumbuhnya komunitas keluarga seperti Trah Antapradja.

Pada fase berikutnya, muncul tokoh Kiai Antapradja pada abad ke-17 yang dianggap sebagai cikal bakal keluarga Antapradja di Trusmi. Posisi sosialnya sebagai tokoh agama atau tokoh masyarakat menunjukkan bahwa keluarga ini tidak hanya memiliki garis keturunan bangsawan, tetapi juga berperan dalam struktur keagamaan lokal. Hal ini diperkuat dengan munculnya Raden Demang Antapradja pada abad ke-18 yang menjabat sebagai pejabat pemerintahan, menandakan integrasi keluarga ini ke dalam sistem birokrasi tradisional di wilayah Cirebon.

Migrasi Keluarga Antapradja ke wilayah Tanjungkerta, Sumedang pada abad ke-19 menjadi fase penting dalam perluasan jaringan genealogis ini. Perpindahan tersebut kemungkinan berkaitan dengan dinamika politik dan administratif di Jawa Barat, terutama setelah wilayah Sumedang menjadi bagian dari struktur kekuasaan yang lebih luas pasca runtuhnya kedaulatan lokal. Seperti diketahui, Sumedang memiliki sejarah panjang melalui Kerajaan Sumedang Larang yang pada awalnya merupakan bagian dari Kerajaan Sunda-Galuh, kemudian berkembang menjadi kerajaan Islam dan akhirnya berada di bawah pengaruh Kesultanan Mataram.

Dalam konteks tersebut, kehadiran Raden Mas Antapradja dan keturunannya di Tanjungkerta menunjukkan proses integrasi elite lokal ke dalam struktur masyarakat Priangan. Tokoh seperti Raden Antapradja kemudian dikenal sebagai figur masyarakat setempat, yang melalui pernikahannya melahirkan generasi penerus dan keturunan lainnya.

Secara keseluruhan, silsilah Antapradja mencerminkan pola umum sejarah Jawa Barat, yaitu peralihan dari struktur kerajaan Hindu-Sunda menuju masyarakat Islam, diikuti oleh integrasi ke dalam sistem pemerintahan kolonial dan modern. Garis keturunan ini memperlihatkan kesinambungan antara bangsawan, ulama, dan aparat pemerintahan lokal dalam satu jaringan keluarga yang berkembang lintas wilayah dari pesisir Cirebon yang kosmopolit hingga pedalaman Sumedang yang agraris.

Dengan demikian, silsilah Antapradja bukan sekadar catatan genealogis, melainkan juga cerminan perjalanan sejarah sosial-budaya masyarakat Sunda yang mengalami transformasi besar selama lebih dari lima abad. Berikut adalah ringkasan singkat silsilahnya:


Leluhur Awal
  1. Raden Walangsungsang/Pangeran Cakrabuana (Abad ke-15), leluhur Antapradja, merupakan anak pertama Sri Baduga Maharaja/Pamanah Rasa/Jayadewata (Prabu Siliwangi) dari Istri Nyi Subang Larang.
  2. Nyi Laraskonda/Rara Konda (Abad ke-15), putri Raden Walangsungsang dari istri Nyi Retna Rasajati. Nyi Laraskonda kemudian menikah dengan Gedeng Trusmi (Adipati Trusmi) Ki Gede Trusmi.

Silsilah Trusmi
  1. Dari Nyai Laraskonda dan Ki Gede Trusmi, teridentifikasi melahirkan beberapa keturunan diantaranya Pangeran Trusmi (Pangeran Antarwulan, Pangeran Astapada, Pangeran Manggana Jati, dll) dan Putri Trusmi (Abad ke-16).
  2. Kiai Antapradja (Abad ke-17), cucu dari keturunan Pangeran/Putri Trusmi, menjadi cikal bakal keluarga Antapradja di Trusmi.
  3. Raden Demang Antapradja (Abad ke-18), putra Kiai Antapradja, menjadi pejabat pemerintahan di Trusmi.

    Makam Rd. Antapradja
Silsilah Tanjungkerta
  1. Raden Mas Antapradja/H. Qassim (Abad ke-19), cucu Raden Demang Antapradja, pindah ke Tanjungkerta, Sumedang.
  2. Raden Antapradja (Abad ke-19), putra Raden Mas Antapradja, menjadi tokoh masyarakat di Tanjungkerta, beristrikan Dewi Kalsih (Nini Ui) dan Nyi (belum teridentifikasi), beliau wafat di Tanjungkerta, Sumedang pada 19-8-1963 dan disemayamkan di Komplek Pemakaman Keluarga Antapradja Cigalumpit, Tanjungkerta, Sumedang.

 
Dari pernikahannya dengan Istri Pertamanya yaitu Dewi Kalsih (Nini Ui), Rd. Antapradja dikaruniai tujuh orang anak diantaranya:
Dewi Kalsih
 
             
              1.
Djaya Pradja
              2. Nyi Enteng
              3. Nyi Karsih
              4. Nyi Entjoh
              5. Nyi Uniasih/Hj. Siti Maemunah
              6. Nyi Omoh (1928 - 2010)
              7. Tata Pradja

 
 
Sementara pernihakannya dengan Istri Keduanya Nyi (belum teridentifikasi), Rd. Antapradja dikaruniai dua orang anak diantaranya:
  1. Omo Katmapradja (1914 - 1990)
  2. Nyi Itjah (Nini Itjah)

Dari keturunan Raden Antapradja dengan Dewi Kalsih melahirkan beberapa generasi yaitu:

Keturunan Djaya Pradja yang merupakan putra sulung dari Rd. Antapradja, adalah tokoh masyarakat yang cukup berpengaruh di Tanjungkerta. Sebagai pemilik lahan pertanian luas yang dikelolanya, ternyata mampu menjadi sumber kehidupan bagi banyak keluarga petani, sementara perkebunannya menjadi penyokong utama perekonomian daerah sekitar sebagai penghasil komoditas. Sedangkan sebagai seorang Saudagar ulung yang menjalankan bisnis setingkat distributor, ia memainkan peran penting dalam perekonomian lokal. Djaya Praja menikah dengan Nyi Esih, dan dikarunia tujuh orang anak yaitu:
  1. Engkar Kartika (1932 - 2010) menikah dengan Ardi mempunyai enam orang anak yaitu:

    - Yeyeh
    - Kosdarma (Menetap di Bandung)
    - Ade Oom
    - Yayah
    - Ait
    - Asep

  2. Tiktik menikah dengan Muhammad Hussain mempunyai sepuluh orang anak yaitu:

    - Yuyu
    - Rachmat
    - Yeyet
    - Ate
    - Mimin
    - Tatang
    - Tuti
    - Wawan
    - Agus
    - Ai

  3. Oman Sutia (1936 - 2010) menikah dengan Nur dikaruniai enam orang anak:

    - Bambang
    - Supeli
    - Elis
    - Ela
    - Igun
    - Usrin

  4. Ir. H. Marma Djaya (1939 - 2000) menikah dengan Hj. Winie, mendedikasikan kehidupannya dalam dunia pendidikan, dan menjadi salah satu pengajar perintis di Universitas Padjadjaran. Dari pernikahannya mereka dikarunia dua orang anak yaitu:

    - Arif Maulana
    - Vine

  5. Achyar (1942 - 2008) menikah dengan Eceu, semasa hidupnya beliau merupakan seorang Wadana di Tanjungkerta. Dari pernikahannya beliau dikaruniai empat orang anak yaitu:

    - Nurman
    - Naneu
    - Iif 
    - Uden

  6. Euis Rohaeni (1944 - 2020) menikah dengan Suganda mempunyai empat orang anak yaitu:

    - Eneng
    - Agus
    - Nina
    - Atep

  7. Ase Gofar merupakan anak bungsu dari keturunan Djaya Pradja yang sampai hari ini disaat catatan ini terus ditulis dan disempurnakan (2024) masih menjadi yang 'dituakan' dan masih berdomisili di Desa Kertamekar, Kec. Tanjungkerta, Kabupaten Sumedang. Beliau merupakan pemegang ahli waris Pemakaman Keluarga Antapradja di Cigalumpit, Tanjungkerta. Menikah dengan Ae Sukaesih seorang Guru, dan dikaruniai tiga orang anak yaitu:

    - Andri Henriyatna
    - Yulia Purnamasari
    - Wiwin Dwiyanti

Keturunan Nyi Enteng (Nini Enteng) menikah dengan Soemadipradja yang merupakan keluarga besar dari keturunan Tumenggung Soemadipradja, seorang tumenggung di masa Sumedang dalam pemerintahan Bupati Koesoemah Adinata atau Pangeran Santri. Dari pernikahannya beliau tidak dianugrahi keturunan.

Keturunan Nyi Karsih (Nini Icit), menikah dengan Ki Enoup (belum teridentifikasi nama aslinya, ini hanya nama panggilan). Ki Enoup dikenal sebagai seorang tokoh agama atau santri, yang dengan setia memberika suri telada kepada masyarakat. Semenntara Nyi Karsih Dalam kesehariannya beliau kerap menghabiskan waktu untuk memproduksi Wajit khas dari Tanjungkerta. Sama halnya dengan Nini Enteng, pasangan Karsih dan Ki Enoup tidak dianugrahi keturunan.

Keturunan Nyi Entjoh (Nini Entjoh), menikah dengan Wiriadinata, yang merupakan salah satu keturunan  keluarga besar Wiriadinata dari Situraja Sumedang. Dimana nama Wiriadinata ini diabadikan menjadi Lanud atau Pangkalan Udara Militer di Tasikmalaya.
  1. Engkos Wiriadinata menikah dengan Wiyanah, semasa hidupnya beliau aktif dalam lingkaran pemerintahan bersama rekan-rekan seperjuangannya Ali Sadikin (Mantan Gubernur Jakarta). Beliau berdomisili di Jl. Pacuan Kuda, Kotakaler, Sumedang Utara. Dari pernikahannya beliau dianugrahi sembilan orang anak yaitu:

    - Elis Yuliah Supeni
    - Vong Tellys
    - Iis Karlina
    - Tatit Sugiarti
    - Dadang
    - Pepen Rupendi
    - Euis Kusyeni
    - Agus Rohjat
    - Yogih Sugisnawan

Keturunan Nyi Entjoh (Nini Entjoh), menikah dengan Suhanta, seorang pedagang atau saudagar dari Sukamantri yang memiliki garis keturunan dari Situraja Sumedang, dimana kakak kandung dari Ki Suhanta adalah Uwa Madria yang menurunkan garis keturunan pemilik Hotel Murni di Sumedang.
  1. Anah (1930 - 1999) menikah dengan Usup/Encup seorang yang mendedikasikan diri dalam dunia pendidikan pada masanya dengan menjabat sebagai seorang Mantri Guru. Dari pernikahan ini dianugrahi tiga orang anak yaitu:

    - Ema
    - Rohayati
    - Dadan Tajuli

    Anah (1930 - 1999) menikah dengan Mayor Purn. Kosasih, yang merupakan salah satu Komandan Satuan dalam Batalyon Infantri di Jawa Barat. Dari pernikahannya beliau dikaruniai satu orang anak yaitu:

    - Enday

  2. Yoyoh Rokayah (1997) menikah dengan Lettu Purn. Saad Sutarya (1932 - 2008), pernah menjabat sebagai Danramil Conggeang. Dalam pernikahannya pasangan ini tidak dikaruniai keturunan, keduanya dimakamkan di TPU Sirnaraga Talun, Sumedang.

  3. Hj. Anih Parsih (1940 - 2023) menikah dengan Peltu Purn. H. Soepandi Umar (1927 - 2016), seorang parjurit yang pernah merampungkan pendidikannya di Landbouw Hogeschool yang kini dikenal sebagai Institut Pertanian Bogor (IPB). Pasangan ini dikebumikan di TPU Leuweung Tiis Komplek Perumahan ASABRI, Jatimulya, Sumedang. Dari pernikahannya mereka dikaruniai delapan orang anak yaitu:

    - Maryati
    - Maryamah
    - Ai Maryani
    - Hj. Ai Mulyani
    - Iis Umiyati
    - Yuyun Yuniarsih
    - Achmad Supriadi 
    - Adang Sutrisna

  4. H. Asa (1942 - 2018) merupakan seorang Saudagar atau Pengusaha supplier komoditas terintegrasi yang cukup diperhitungkan di Tanjungkerta, dari mulai bisnis penggilingan padi, hingga ke material konstruksi yang menjadi bisnis utamanya. Beliau menikah dengan Hj. Ratnah (1947 - 2023), dan dikaruniai tujuh orang anak yaitu:

    - Didin Tahjudin (1966 - 2017)
    - Jaja Suparja
    - Didi Rasidi
    - Titin Suhartini
    - Ajat Sudrajat
    - Titing Ratnaningsih
    - Juju Juariah

  5. Udung, semasa hidupnya selain sebagai seorang Petani, juga ikut aktif membatu kakaknya yaitu H. Asa dalam menjalankan usahanya. Berdomisili di Gandasoli, Tanjungkerta, menikah dengan (tidak teridentifikasi) dan dianugrahi dua orang anak yaitu:

    - Engkos
    - Dede

  6. Kardi, mewarisi kediaman asli dari Nini Entjoh yang terletak di Kerta Mekar, Tanjungkerta, untuk kemudian diwariskan kepada anak-anaknya. Beliau menikah dengan (tidak teridentifikasi) dan dianugrahi dua orang anak yaitu:

    - Roro
    - Eha

  7. Karna menikah dengan (tidak teridentifikasi). Merupakan seorang Petani juga seorang Pedagang yang ulet dalam kesehariannya. Dalam pernikahannya beliau dianugrahi dua orang anak yaitu:

    - Kesih
    - Lilis

Keturunan Nyi Uniasih (Nini Unil) atau nama lainnya adalah Hj. Siti Maemunah, menikah dengan Ki Sugeng yang merupakan keturunan dari Tedjaningrum. Sama halnya dengan Nini Enteng dan Nini Icit, Uniasih tidak dianugrahi keturunan. Keduanya dikebumikan di TPU Sirnaraga Talun, Sumedang.

Keturunan Nyi Omoh (Nini Omoh), menikah dengan Tahlimihardja seorang pegawai pemerintahan pada masanya dengan jabatan sebagai Juru Tulis dimasa Kewadanaan, sehingga banyak yang mengenal beliau dengan sebutan Ki Ulis. Dalam pernikahannya mereka dianugrahi delapan orang anak diantaranya:
  1. Juju
  2. Olet
  3. Uum
  4. Ai Warmilah (1945 - 2021)
  5. Ate Rosmanah
  6. Ukay Pandi (1959 - 2025)
  7. Tuti
  8. Nono

Keturunan Tata Pradja, menikah dengan Nyi Ratni yang akrab disapa Nini Erat, dan dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai sembilan orang anak. Dalam kesehariannya, beliau memiliki lahan pertanian dan perkebunan yang menjadi sumber utama penghidupan keluarga. Selain itu, beliau juga memiliki toko grosir serba ada yang melayani kebutuhan masyarakat sekitar, menjadikannya figur penting dalam roda ekonomi lokal pada masanya. Adapun keturunannya adalah sebagai berikut:
  1. Diding
  2. Engkos (Kudus)
  3. Tomala
  4. Ida Dalimah
  5. Kuston (1960 - 2022)
  6. Awat Karwati
  7. Dudun Sudradjat
  8. Titin
  9. Ecin
Share on Google Plus

About A.S. Antapradja

An ordinary husband and father who was born at eastern small town of West Java. Working for the State Owned Company in Indonesia, loving outdoors activity and adventure addict. Part time wanderer with amateur experience, but full time dreamer with no limit to break the horizon as the destination...

5 Comments :

  1. Om, nama nenek Anih Suparsih bukannya Anih Parsih?

    ReplyDelete
  2. Anak dari bp Tata, ada 2 yang tidak masuk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, boleh japri saya di facebook Kang biar ketemu kita ngobrol...

      Delete
  3. Sumbernya sahih ngga?

    ReplyDelete